Tantangan Regenerasi di Era Digital, Pegiat Budaya: Jangan Sampai Generasi Kehilangan Akar
Pegiat budaya Budhi Hartanto, mengatakan generasi muda tidak harus mengikuti cara generasi sebelumnya dalam mengenal budaya, tetapi perlu mendapatkan ruang untuk memahami relevansi nilai budaya dengan kehidupan mereka saat ini.
NEWS
Abu Nadzib
9/20/20263 min read


Ratusan peserta menghadiri Semarak Budaya 2026 di D’Lima Resto, Jebres, Surakarta, Minggu (20/9/2026). (Istimewa)
Nyaya.id, SURAKARTA — Pelestarian budaya dinilai menghadapi tantangan baru di tengah perubahan teknologi dan pola komunikasi generasi muda. Pelestarian tidak cukup dilakukan dengan menjaga benda warisan atau menggelar pertunjukan, tetapi perlu memastikan pengetahuan dan nilai yang terkandung di dalamnya tetap dipahami dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pegiat budaya Budhi Hartanto mengatakan tantangan tersebut perlu dijawab dengan memperkuat regenerasi kebudayaan. Menurutnya, generasi muda tidak harus mengikuti cara generasi sebelumnya dalam mengenal budaya, tetapi perlu mendapatkan ruang untuk memahami relevansi nilai budaya dengan kehidupan mereka saat ini.
“Anak muda tidak harus dibuat menjadi seperti generasi sebelumnya untuk mencintai budaya. Tugas kita adalah membuat mereka memahami mengapa nilai-nilai itu masih relevan dengan kehidupan mereka sekarang,” kata Budhi dalam Semarak Budaya 2026 di D’Lima Resto, Jebres, Surakarta, Minggu (20/9/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan Omah Budhi Solo bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia tersebut mengusung tema “Merawat Warisan, Menghidupkan Nilai, Meneguhkan Jati Diri”.
Menurut Budhi, perkembangan teknologi dan media sosial justru perlu dimanfaatkan sebagai bagian dari strategi pewarisan budaya. Ruang kebudayaan, kata dia, tidak hanya dapat dibangun melalui kegiatan tatap muka, tetapi juga perlu hadir di kampus, komunitas, ruang publik, hingga platform digital.
“Jangan sampai algoritma mengenal generasi muda kita lebih baik daripada kita mengenalkan akar budayanya sendiri,” ujarnya.
Bukan Sekadar Budaya
Budhi menilai pelestarian kebudayaan selama ini kerap dipahami melalui keberadaan benda, pertunjukan, atau kegiatan seremonial. Padahal, menurutnya, terdapat pengetahuan dan nilai yang jauh lebih penting untuk diwariskan.
Ia mencontohkan keris yang tidak hanya dapat dipandang sebagai benda pusaka. Di dalamnya terdapat pengetahuan mengenai sejarah, teknologi tempa, estetika, simbolisme, etika, hingga pandangan hidup masyarakat pada zamannya.
Hal serupa terdapat dalam macapat. Tembang tradisional Jawa tersebut tidak hanya berkaitan dengan teknik vokal dan metrum, tetapi juga menjadi medium penyampaian pitutur, pendidikan moral, serta refleksi mengenai kehidupan manusia.
“Kalau keris berhenti menjadi benda pajangan dan macapat hanya menjadi tembang yang didengar pada acara tertentu, kita kehilangan bagian penting dari proses pewarisan. Yang harus diwariskan bukan hanya bentuknya, tetapi pengetahuan dan nilai di belakangnya,” katanya.
Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Semarak Budaya 2026. Peserta tidak hanya menyaksikan pertunjukan seni, tetapi juga diajak memahami sejarah dan filosofi kebudayaan serta melihat praktik perawatan keris.
Pertemuan Pelaku Budaya
Semarak Budaya 2026 menghadirkan sejumlah pelaku dan praktisi budaya dari berbagai bidang.
Tri Wahyunianto dari PSTA Nunggak Semi membahas filosofi dan nilai moral keris. Sementara Rosnendya Yudha Wiguna dari Pusat Studi Lontar Nusantara mengulas sejarah keris.
Dari bidang seni pertunjukan, Sunu Purniadi bersama Girli Budaya Sejahtera menghadirkan Tari Budaya Bambangan Cakil. Sri Widada dari PSM Sekar Wening mengajak peserta memahami ajaran moral melalui macapat.
Praktisi perkerisan senior Ady Sulistyono juga memberikan demonstrasi dan praktik perawatan keris. Rangkaian kegiatan dilengkapi Macapat Umbul Donga yang dibawakan Ma’ruf Pujinto.
Budhi mengatakan pertemuan langsung antara pelaku budaya dan masyarakat penting dalam proses regenerasi. Sebab, sebagian pengetahuan kebudayaan tidak hanya tersimpan dalam buku, museum, atau dokumentasi, tetapi juga hidup melalui pengalaman para seniman, penembang, praktisi, kolektor, dan komunitas.
“Kerja kebudayaan tidak bisa dikerjakan sendirian. Pemerintah, komunitas, akademisi, seniman, praktisi dan masyarakat perlu saling bertemu,” katanya.
Menghasilkan Pewaris
Budhi menegaskan bahwa dokumentasi dan perawatan artefak tetap penting. Namun, upaya tersebut belum cukup apabila tidak diikuti lahirnya generasi baru yang bersedia mempelajari dan meneruskan pengetahuan kebudayaan.
Karena itu, ia melihat pelestarian budaya seharusnya memiliki tujuan akhir berupa regenerasi.
“Yang paling penting, kebudayaan jangan berhenti menjadi agenda kegiatan. Ia harus kembali hadir sebagai pengetahuan dan nilai yang hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menilai modernitas dan tradisi tidak harus ditempatkan sebagai dua hal yang bertentangan. Generasi muda tetap dapat menguasai teknologi dan berinteraksi dengan dunia global tanpa harus kehilangan akar kebudayaannya.
“Menjadi modern tidak mengharuskan kita kehilangan akar. Kita boleh belajar dari dunia, tetapi harus tetap mengetahui dari mana kita berasal,” kata Budhi.
Menurutnya, keberhasilan pelestarian budaya pada akhirnya tidak cukup diukur dari banyaknya kegiatan, benda pusaka yang tersimpan, maupun pertunjukan yang digelar. Hal yang lebih penting adalah keberadaan orang-orang yang memahami nilai dan pengetahuan di balik warisan tersebut.
“Suatu saat generasi kita akan pergi. Kerisnya mungkin masih ada, naskahnya masih tersimpan, dan rekaman macapat masih bisa diputar. Tetapi ada pertanyaan yang jauh lebih penting: siapa yang akan memahami semuanya setelah kita tidak ada?” ujarnya.
Semarak Budaya 2026 menjadi salah satu ruang untuk menjawab persoalan tersebut melalui pertemuan antara masyarakat dan pelaku budaya. Bagi Budhi, kebudayaan pada akhirnya tidak cukup hanya dikenang, tetapi perlu dipahami, dihidupkan, dan diwariskan.


Pegiat budaya Budhi Hartanto (Istimewa)
© 2026 nyaya.id-Adil sejak dalam Pikiran
Nyaya.id
Nyaya.id adalah portal berita online yang punya komitmen mengabarkan suara publik baik melalui berita (news) maupun opini atau gagasan. Informasi umum dan santai juga kami hadirkan sebagai bentuk pemenuhan hak publik.
Sekretariat: Ngabeyan RT 006/003, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah.
Email: redaksi@nyaya.nyaya.id
WA: 085 725020202
