TAKTEPUK
Ketika dunia bersorak untuk panggung, mereka lupa siapa yang menjaga panggung tetap berdiri.
KOLOM
Edhy Aruman
7/24/20264 min read


Nyaya.id, NEW YORK -- Ketika miliaran pasang mata di seluruh dunia terpaku pada kemegahan Opening Ceremony dan Closing Ceremony FIFA World Cup 2026, ada satu nama dari Indonesia yang bekerja jauh dari sorotan kamera: Welah Hatta.
Jika ia berhasil, hampir tak seorang pun akan menyadari pekerjaannya. Jika ia gagal, miliaran orang akan melihatnya pada detik yang sama.
Di saat dunia menikmati setiap adegan yang tampak sempurna, ia justru memastikan kesempurnaan itu benar-benar terjadi.
Welah Hatta adalah alumni Batch 9 Program Studi Mass Communication, LSPR Institute of Communication and Business, Jakarta. Kini ia dipercaya oleh Balich Wonder Studio sebagai Senior Stage Manager dalam tiga momen paling prestisius FIFA World Cup 2026: Opening Ceremony di Los Angeles, United States 250th Independence Day Ceremony for FIFA World Cup di Philadelphia, dan Closing Ceremony di New York–New Jersey.
Kepercayaan tersebut bukanlah keberuntungan sesaat, melainkan puncak dari perjalanan profesional yang dibangun selama lebih dari lima belas tahun di panggung-panggung berskala internasional.
Sebelum terlibat dalam Piala Dunia 2026, Welah telah membangun reputasi melalui berbagai perhelatan besar di dunia. Portofolionya mencakup Asian Games 2018 Jakarta–Palembang, Asian Para Games 2018, SEA Games Filipina 2019, PON XX Papua 2021, FIFA World Cup Qatar 2022, Dubai Expo 2020, Indonesia National Special Olympics 2022, hingga Saudi Games 2022.
Rekam jejak itu menunjukkan bahwa kepercayaan global tidak pernah lahir dalam semalam. Ia tumbuh dari konsistensi yang dijaga ketika tidak banyak orang memperhatikan.
Namun, kisah ini sesungguhnya bukan hanya tentang Welah Hatta. Kisah ini tentang bagaimana kita memaknai keberhasilan dan kepada siapa penghargaan biasanya diberikan.
Kita mengingat penyanyi yang membuka seremoni. Kita mengenang kapten tim yang mengangkat trofi di penghujung turnamen. Akan tetapi, hampir tidak ada yang bertanya siapa yang memastikan ribuan orang, ratusan properti, puluhan sistem teknologi, dan hitungan waktu yang begitu presisi dapat bergerak sebagai satu kesatuan.
Di situlah paradoks profesionalisme bekerja. Mereka adalah para taktepuk—orang-orang yang membuat tepuk tangan menjadi mungkin tanpa pernah berharap menjadi tujuan tepuk tangan itu.
Semakin penting sebuah pekerjaan, semakin kecil kemungkinan publik menyadari bahwa pekerjaan itu pernah dilakukan. Kesalahan selalu mencuri perhatian karena menimbulkan gangguan, sedangkan pekerjaan yang sempurna justru dianggap sebagai sesuatu yang memang seharusnya terjadi.
Mengapa kita mudah melupakan orang-orang seperti Welah?
Psikologi memiliki jawabannya. Amos Tversky dan Daniel Kahneman menjelaskan bahwa manusia lebih mudah mengingat sesuatu yang dramatis dan terlihat daripada proses yang berlangsung tanpa gangguan. Mereka menyebut kecenderungan ini sebagai availability heuristic (Tversky & Kahneman, 1973).
Cara berpikir seperti itu ternyata tidak hanya terjadi di panggung hiburan. Dunia olahraga elit menunjukkan pola yang persis sama. Kita mengenal atlet, pelatih, dan pencetak gol karena mereka berada di garis depan. Namun, performa kelas dunia tidak pernah lahir dari satu individu saja; ia merupakan hasil kerja sama analis performa, psikolog olahraga, ahli nutrisi, fisioterapis, tenaga medis, manajer operasional, hingga berbagai profesi lain yang jarang mendapat sorotan.
Temuan dalam psikologi olahraga modern menunjukkan hal yang sama. Kondisi ini dikenal sebagai high-performance sport environment. Henriksen dan koleganya menunjukkan bahwa performa elit dibangun oleh lingkungan yang sehat—ditopang kepemimpinan yang kuat, budaya kolaboratif, pembelajaran berkelanjutan, dan dukungan multidisiplin yang memungkinkan setiap individu memberikan kontribusi terbaiknya (Henriksen et al., 2010; Schlawe et al., 2025).
Dengan kata lain, kemenangan bukanlah karya seorang pahlawan tunggal, melainkan hasil dari sebuah ekosistem yang bekerja dengan disiplin dan saling percaya.
Prinsip yang sama berlaku pada seremoni Piala Dunia. Apa yang kita saksikan selama belasan menit di layar televisi hanyalah puncak gunung es. Di bawahnya tersembunyi ribuan jam latihan, simulasi, koordinasi lintas negara, mitigasi risiko, sinkronisasi teknologi, dan pengambilan keputusan yang harus tepat pada percobaan pertama.
Siaran langsung tidak memiliki tombol untuk mengulang. Ketika jutaan orang menyaksikan pada saat yang sama, tidak ada kesempatan untuk berkata, "Mari kita coba sekali lagi." Yang tampak di layar hanyalah sebuah pertunjukan yang mengalir tanpa cela. Yang tidak tampak adalah disiplin yang membuat keajaiban itu mungkin terjadi.
Keberadaan Welah Hatta di panggung terbesar sepak bola dunia memperlihatkan bagaimana keahlian kelas dunia sebenarnya dibangun. Penelitian K. Anders Ericsson mengenai deliberate practice menunjukkan bahwa performa luar biasa bukan terutama lahir dari bakat, melainkan dari latihan yang disengaja, umpan balik yang konsisten, dan penyempurnaan yang dilakukan terus-menerus selama bertahun-tahun (Ericsson et al., 1993).
Panggung terbesar tidak menciptakan profesional hebat; panggung terbesar hanya memperlihatkan kepada dunia hasil dari proses yang selama ini dikerjakan dalam diam.
Kita hidup pada zaman yang dapat menghitung jumlah pengikut dalam hitungan detik, tetapi sering gagal menghargai orang-orang yang membuat semuanya mungkin.
Jumlah pengikut, tayangan, dan tepuk tangan sering menjadi ukuran keberhasilan. Padahal, jembatan tidak berdiri karena sorotan, rumah sakit tidak berfungsi karena popularitas, dan pesawat tidak mendarat dengan selamat karena banyaknya pengikut di media sosial. Peradaban selalu bergerak dengan logika yang berbeda.
Demikian pula, seremoni Piala Dunia dapat memukau miliaran penonton karena ada orang-orang seperti Welah Hatta yang memilih memastikan semuanya berjalan sempurna, bukan memastikan namanya dikenal.
Bagi LSPR Institute of Communication and Business Jakarta, kiprah Welah Hatta menjadi pengingat bahwa komunikasi bukan sekadar kemampuan berbicara di depan publik. Komunikasi juga merupakan kemampuan memimpin, mengoordinasi, membangun kepercayaan, menyatukan berbagai disiplin, serta menjaga ribuan orang tetap bergerak menuju tujuan yang sama di bawah tekanan yang luar biasa. Itulah bentuk komunikasi yang paling sunyi, tetapi juga yang paling menentukan.
Kisah Welah Hatta mengingatkan kita pada sesuatu yang sederhana, tetapi mudah dilupakan. Profesionalisme sejati tidak selalu berdiri di bawah sorotan lampu, dan kontribusi terbesar sering kali lahir dari mereka yang tidak pernah meminta menjadi pusat perhatian. Mereka tidak bekerja untuk mendapatkan tepuk tangan; mereka bekerja agar tepuk tangan itu dapat terjadi.
Ketika dunia bersorak menyaksikan sebuah pertunjukan, kita mudah terpukau oleh apa yang tampak di atas panggung. Namun, sesungguhnya kualitas sebuah peradaban selalu ditentukan oleh mereka yang memilih bekerja di balik panggung, menjaga agar semuanya tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Barangkali, di balik setiap panggung yang sempurna, selalu ada para taktepuk—orang-orang yang membuat tepuk tangan menjadi mungkin tanpa pernah berharap menjadi tujuan tepuk tangan itu.
(Edhy Aruman, penulis senior Indonesia)
© 2026 nyaya.id-Adil sejak dalam Pikiran
Nyaya.id
Nyaya.id adalah portal berita online yang punya komitmen menyuarakan keadilan baik melalui berita (news) maupun opini atau gagasan. Informasi umum dan santai juga kami hadirkan sebagai bentuk pemenuhan hak publik.
Sekretariat: Ngabeyan RT 006/003, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah.
Email: redaksi@nyaya.nyaya.id
WA: 085 725020202
