Sepak Bola Bisa Bagus, Asal...
Vonis Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) atas kasus sepakbola gajah antara PSS Sleman dan PSSI Semarang sangat menyengat. Jika tidak ada keajaiban dalam sidang banding nanti, empat pemain PSIS dan tiga pemain PSS harus mencari pekerjaan lain. Sebab, mereka dilarang beraktivitas dalam dunia sepak bola seumur hidup.
KOLOM
Abu Nadzib
11/1/20145 min read


Nyaya.id -- Vonis Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) atas kasus sepakbola gajah antara PSS Sleman dan PSSI Semarang sangat menyengat. Jika tidak ada keajaiban dalam sidang banding nanti, empat pemain PSIS dan tiga pemain PSS harus mencari pekerjaan lain. Sebab, mereka dilarang beraktivitas dalam dunia sepak bola seumur hidup.
Dari PSIS adalah Adi Nugroho (kiper), Komaedi (gelandang), Fadli Manan (striker), dan Saptono (striker). Sedangkan dari PSS masing-masing Riono (kiper), Agus Setiawan (pemain belakang), dan Hermawan Putra Jati (pemain belakang). Bukan hanya mereka, dua pelatih yakni Eko Riyadi (PSIS) dan Herry Kiswanto (PSS);.pengelola tim yakni Wahyu Winarto (Manajer PSIS); Ery Febriyanto (Sekretaris PSS) dan ofisial Rumadi juga dihukum larangan beraktivitas sepak bola seumur hidup.
Vonis di atas yang terberat. Sementara beberapa pemain lainnya mendapat hukuman larangan bermain antara 1 tahun sampai 10 tahun, termasuk pemain pemain asing yakni Ronald Fagundez (PSIS), Julio Alcorse (PSIS), dan Guy Junior (PSS).
Menariknya, vonis PSSI juga mengenai mereka yang sebenarnya hanya “figuran” dalam tim sepak bola. Pembantu umum PSIS Suyatno dan tukang pijat Aji dihukum larangan beraktivitas selama satu tahun dengan masa percobaan 5 tahun. Kitman PSS Dwi dan tukang pijat Suyono juga mendapat hukuman yang sama. Mereka dianggap bersalah karena tidak melaporkan adanya perbuatan melanggar aturan kepada PSSI.
Vonis berat itu juga menyajikan fakta ironi. Heri Kiswanto adalah salah satu legenda hidup sepak bola Indonesia. Pria Sunda kelahiran Banda Aceh 25 April 1955 ini terkenal sebagai libero andalan timnas Indonesia era 80 hingga 90-an. Dalam kiprahnya di lapangan hijau selama lebih dari 15 tahun, konon ia baru sekali mendapat kartu kuning. Herkis (sapaan Heri Kiswanto) berperan besar mempersembahkan medali emas SEA Games 1987 silam.
Kini, kariernya berakhir dengan sangat tragis. Ia dihukum karena dianggap tidak mencegah terjadinya sepak bola gajah, padahal dirinya adalah pelatih PSS Sleman. Vonis berat ini mengingatkan kita pada kasus Mursyid Effendy. Gara-gara secara sengaja mencetak gol ke gawang sendiri pada Piala Tiger 1998 (kini bernama Piala AFF) ia dihukum FIFA selama seumur hidup dari aktivitas sepak bola. Tapi partner Aji Santosa kala membela Timnas itu beruntung. Ia tetap aktif di sepak bola Indonesia hingga kini karena PSSI hanya menghukumnya satu tahun.
Jauh sebelum itu kita juga diingatkan dengan kasus memalukan yang melibatkan pemain-pemain hebat Tanah Air. Karier Andi Ramang striker terhebat Indonesia sepanjang masa yang dinobatkan FIFA sebagai Indonesian who inspired ’50s meridian (Orang Indonesia yang menginspirasi puncak sukses tahun 1950-an) harus berakhir tragis.
Ia terlibat skandal pengaturan skor kala menjamu Yugoslavia dalam laga persahabatan menjelang Asian Games 1965. Bersama beberapa pemain hebat kala itu, seperti Wowo Sunaryo dan Rukma Sudjana, Ramang menerima suap dari mafia judi. Mereka pun dihukum larangan bermain sepak bola seumur hidup kendati akhirnya hukuman itu dianulir karena pertimbangan politik.
Kita tentu tidak ingin terpuruk ke kesalahan yang sama berulang-ulang. Aneka skandal yang mencederai sportivitas sepak bola harus diakhiri. Publik membutuhkan suguhan yang asyik dan bermutu. Bayangkan jika yang diperagakan para pemain di lapangan adalah sepak bola gajah atau sepak bola yang telah dibeli oleh mafia judi, lama-lama masyarakat akan antipati datang ke stadion.
Jika dikelola secara baik sepak bola bisa menjadi industri yang menghidupi banyak kalangan. Mulai pemain, pelatih, pengurus bahkan masyarakat di kota tempat klub tersebut bernaung. Sejak dulu masyarakat kita gila bola. Bahkan gelaran sepak bola antar kampung (tarkam) pun penuh penonton. Ini tentu potensi yang jika digarap secara serius akan menghasilkan uang yang berlimpah.
Syaratnya adalah profesionalitas. Jangan ada permainan. Mafia judi harus dijauhkan sejauh-jauhnya dari sepak bola. Sebab, mafia judi itu terbukti yang menghancurkan kepercayaan masyarakat kepada sepak bola. Lihatlah Italia. Sebelum terbongkar skandal pengaturan skor pada 2006 silam atau dikenal sebagai Calciopoli , sepak bola bak agama baru di negara berpenduduk terbanyak kelima di Eropa itu. Stadion selalu penuh penonton. Tapi sejak skandal tersebut terbongkar stadion menjadi kosong melompong. Hanya stadion milik beberapa tim besar saja yang masih didatangi penonton, itu pun jarang yang sampai penuh.
Pada 2013 lalu, Kepolisian Uni Eropa (Europol) mengungkap sebuah jaringan pengaturan pertandingan yang mencakup beberapa negara di seluruh dunia. Sedikitnya 680 pertandingan mulai level tim nasional hingga klub pada 2008-2011 dicurigai telah diatur oleh mafia yang disebut-sebut berpusat di Singapura tersebut. Sebanyak 380 laga merupakan kompetisi Eropa sementara 300 lainnya teridentifikasi di Afrika, Asia (termasuk Indonesia) dan Amerika Latin. Dari hasil penyelidikan tersebut, bahkan pertandingan di Liga Champions dan Kualifikasi Piala Dunia berhasil disusupi (Antara, 5 April 2013).
Temuan Europol ini mengingatkan kita pada kasus PSMS Medan versus PS Bengkulu pada laga Divisi I musim 2010/2011 silam. Kala itu, PSMS Medan yang hendak melakoni laga tandang melawan PS Bengkulu diperintahkan oleh pengurusnya untuk mengalah. Konon para pengurus telah mendapat suap dari bandar judi dari Malaysia. Saat itu, pelatih dan para pemain menolak. Akibatnya gaji mereka tertunggak bertahun-tahun.
Para pemain berdemo menuntut pelunasan gaji. Beberapa pemain asing bahkan mengemis di jalan demi menyambung hidup. Kasus itu menghiasi berbagai media massa dalam dan luar negeri. Baru pada 2013 perkara itu dibuka kembali. Gaji pemain dilunasi. Tiga pengurus PSMS dijatuhi hukuman larangan beraktivitas di sepak bola seumur hidup. Mereka adalah manajer tim Sarwono, CEO PSMS Heru Pramono, dan pengurus klub Saryono. Jika dikaitkan dengan Europol bisa jadi PSMS Medan saat itu termasuk yang digarap sindikat judi internasional.
Wartawan asal Kanada, Declan Hill, pernah meluncurkan buku kontroversial berjudul The Fix: Soccer and Organize Crime. Dalam bukunya tersebut Hill menyebut mafia judi umumnya adalah manusia yang cerdas dan pandai membaca psikologi manusia. Kemampuan membaca psikologi ini dibutuhkan untuk memahami titik lemah pemain yang akan disuap. Entah soal ekonomi, perempuan atau narkoba. Dan berdasarkan penuturan Hill, bukan klub-klub mapan yang menjadi bidikan utama mafia judi melainkan klub-klub lemah. Karena klub lemah dalam pendanaan, pengaturan skor pun sangat mudah dilakukan. Bisa jadi, kajian Hill ini justru lebih tepat untuk menganalisis klub-klub di Tanah Air.
Dari berbagai kasus memalukan di dunia sepak bola Tanah Air ini kita bisa mengambil banyak pelajaran. Yang utama adalah jika sesuatu dikelola dengan tidak profesional maka hasilnya pasti akan hancur. Demikian pula sepak bola. Sepak bola bisa menjadi industri jika dikelola secara benar dan profesional.
Di Indonesia ini begitu banyak orang kaya. Pertanyaannya, mengapa sangat sedikit yang mau menjadikan sepak bola sebagai bisnis mereka? Masalahnya ada pada kepercayaan. Pengelolaan klub selama ini masih sangat tradisional. Mereka tidak akrab dengan transparansi. Kalaupun ada terkesan asal-asalan. Akibatnya, pengusaha enggan menggelontorkan uang mereka untuk sepak bola.
Padahal jika dikelola secara benar, sepak bola bukan hanya sebagai hiburan tetapi sebagai bisnis yang menggiurkan. Dari tiket saja bisa terkumpul uang hingga Rp500 juta per pertandingan (untuk klub besar seperti Persebaya, Arema dan Persib Bandung). Belum lagi dari merchandise, sponsorship, hak siar dan lain-lain. Ini jelas bukan uang yang sedikit.
Syaratnya, klub sepak bola harus dikelola secara benar dan profesional. Jangan ada permainan mafia, jangan ada dusta di antara kita. PSSI harus bisa menjadi organisasi yang benar-benar mengarahkan sepak bola Indonesia ke jalan yang benar. PSSI harus berani menyingkirkan orang-orang yang selama ini terindikasi masuk dalam jaringan mafia judi internasional. Untuk mewujudkan hal ini, PSSI bisa menggandeng pemerintah, penegak hukum bahkan dengan kepolisian internasional (Interpol). Demi kejayaan sepak bola Tanah Air PSSI harus memulainya sekarang. Jangan tunda-tunda lagi.
(Abu Nadzib, jurnalis Solopos Group)


© 2026 nyaya.id-Adil sejak dalam Pikiran
Nyaya.id
Nyaya.id adalah portal berita online yang punya komitmen menyuarakan keadilan baik melalui berita (news) maupun opini atau gagasan. Informasi umum dan santai juga kami hadirkan sebagai bentuk pemenuhan hak publik.
Sekretariat: Ngabeyan RT 006/003, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah.
Email: redaksi@nyaya.nyaya.id
WA: 085 725020202
