Selamat Jalan Londo Ireng

Deskripsi Pak Londo Ireng adalah orang yang sangat Njawani. Sosok ini dikenal baik dan selalu melayani kebutuhan informasi para jurnalis yang meliput di kampus UNS. Sehari-hari ia bisa ditemui di Ruang Humas di Kampus UNS.

KOLOM

Sholahuddin

3/21/20202 min read

Sholahuddin (Ist)
Sholahuddin (Ist)

Nyaya.id -- Sebuah pesan masuk di aplikasi whatsApp group (WAG). “Pak Londo Ireng meninggal dunia. Apakah sudah ada yang meliput?.”

Saya kaget. Innalillahi wainnailaihi rojiunn...

Sesungguhnya kita ini milik Allah, dan kepada-Nya semua kita akan kembali...

Di kalangan jurnalis—terutama jurnalis senior yang bertugas di desk Pendidikan —Londo Ireng bukan nama asing. Ia adalah nama panggilan dari pemilik nama “Sunardiono”, mantan pelaksana Humas Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Saat kali pertama mendengar nama “Londo Ireng”, saya terbayang sosok seperti orang bule. Lha namanya saja pakai “Londo” (Belanda). Tapi setelah ketemu bayangan saya ini hilang.

Pak Londo Ireng adalah orang yang sangat Njawani. Sosok ini dikenal baik dan selalu melayani kebutuhan informasi para jurnalis yang meliput di kampus UNS. Sehari-hari ia bisa ditemui di Ruang Humas di Kampus UNS. Seingat saya, anggota staf Humas di UNS baru dua orang. Selain Pak Londo Ireng, ada seorang Bapak yang saya lupa namanya.

Saya pernah jadi jurnalis Pendidikan sekitar 1 tahun (1998-1999), sering nongkrong di Ruang Humas UNS di Gedung Rektorat. Tidak lama, tapi waktu satu tahun cukup bagi saya untuk mengenal sosok ini karena hampir setiap hari ketemu, baik di kampus maupun di kantor Solopos. Setiap saya dan teman-teman wartawan lain membutuhkan informasi tentang sebuah isu, dia dengan senang hati akan membantu. Begitu juga saat kami membutuhkan narasumber yang kompeten untuk saya wawancarai. Dia selalu memberikan rekomendasi. Termasuk saat saya mau ketemu Rektor UNS kala itu, Prof. Haris Mudjiman, Ph.D.

Pak Londo Ireng sangat rajin membuat siaran pers. Hampir semua aktivitas di Kampus pasti dibuatkan rilis buat wartawan. Dia menulis siaran pers dengan mesin ketik manual. Maklum, saat itu komputer masih jadi barang mahal. Saya ingat, kalau membuat siaran pers pasti ditulis dengan panjang lebar, selengkap mungkin, meskipun peristiwanya “sederhana” dari sudut news value (nilai berita). Tapi kebiasaan itu menguntungkan karena wartawan punya banyak pilihan informasi yang akan ditulis.

Siaran pers itu bisa diambil wartawan di Ruang Humas. Kalau saya pas tidak ke kampus, Pak Londo Ireng setiap sore hampir pasti mampir kantor Solopos di Jl. Slamet Riyadi 325 Solo (Kantor lama) dan kantor media massa lainnya. Dia akan mengantar siaran pers yang dimasukkan amplop berkop UNS. Maklum saat itu belum musim email, apalagi WA. Siaran pers dari Pak Londo Ireng ini selalu saya tunggu-tunggu, terutama saat “paceklik” alias kurang berita. Minimal rilis dari Pak Londo Ireng bisa jadi berita sekilas.

Suatu hari, saat saya di Ruang Humas UNS, ibu kantin di Gedung Rektorat tiba-tiba membawa 3 piring mie rebus pakai telur yang masih kemebul. “Lho, ini buat siapa Pak Londo Ireng?,” tanya saya.

“Ayo kita makan-makan bareng,” ajaknya. Karena kadung disajikan, ya kami makan bertiga. Saya, Pak Londo Ireng, dan seorang mahasiswi Ilmu Komunikasi Fisip UNS yang tengah magang jadi wartawan di sebuah media massa. Makan bareng sambil ngobrol ngalor-ngidul. Oh ya, nama si mahasiswi aku rahasiakan ya, takut Mbaknya baca tulisan ini. Malu..hehe...

Pak Londo Ireng juga sering ngledekin dengan menjodoh-jodohkan saya dengan seseorang. Maklum masih jomblo. Tapi sejarah memang berkata lain he..he...

Selamat jalan Pak Londo Ireng...

Semoga Allah dan para malaikat menerimamu dengan baik, sebagaimana engkau menerima saya dengan baik saat kami butuh informasi...

(Sholahuddin, penulis adalah mantan wartawan Solopos)

Mantan pegawai Humas UNS Solo, Sunardiono alias Londo Ireng. (Istimewa/Humas UNS Solo)
Mantan pegawai Humas UNS Solo, Sunardiono alias Londo Ireng. (Istimewa/Humas UNS Solo)