RETREAT
Media rupanya gemar membangun narasi "Wonder Woman" saat Ardern berhasil melahirkan dan menyusui bayinya sambil memimpin negara. Namun begitu ia memutuskan mundur karena kelelahan, media langsung membingkainya seolah-olah Ardern akhirnya "menyerah" dan kembali ke pelukan takdir alaminya sebagai ibu rumah tangga biasa.
KOLOM
Edhy Aruman
7/13/20264 min read


Nyaya.id, SOLO -- Bayangkan Anda berada di puncak karier yang diimpikan oleh jutaan orang. Nama Anda harum di panggung internasional, dipuji para pemikir global karena gaya kepemimpinan yang penuh empati, dan wajah Anda menjadi langganan menghiasi sampul majalah bergengsi.
Di tengah semua tepuk tangan itu, apa yang akan Anda lakukan? Kebanyakan orang akan mencengkeram kursi kekuasaannya erat-erat, kalau perlu sampai jemarinya memutih, demi mempertahankan takhta.
Namun, tidak demikian halnya dengan Jacinda Ardern. Pada 19 Januari 2023, Perdana Menteri Selandia Baru itu berdiri di mimbar dan menjatuhkan bom kejutan yang membuat rahang publik dunia kompak menganga. Tanpa skandal korupsi, tanpa kudeta militer, ia mengumumkan pengunduran dirinya. Kalimatnya begitu jujur, polos, dan sangat manusiawi: ia mengaku mendadak kehabisan energi dan tidak lagi memiliki cukup modal "di dalam tangki" untuk menjalankan tugasnya dengan benar.
Di dunia yang mengidap kecanduan akut pada kekuasaan, keputusan Ardern terasa seperti anomali yang jenaka. Logika awam kita sering kali mendikte: kalau kompor di dapur organisasi sedang menyala panas, tugas pemimpin adalah mengipasinya agar apinya makin besar, atau minimal bertahan di sana sampai gosong sekalian. Kita sering menganggap bertahan dalam kondisi babak belur sebagai lambang kepahlawanan.
Saat pertama kali membaca pidato itu, saya justru berhenti di kalimat tentang tangki bensin. Bukan karena dramatis, tetapi karena terasa sangat biasa. Saya tidak tahu apakah keputusan Ardern benar secara politik. Bisa jadi sebagian orang menganggapnya terlalu cepat menyerah. Lucunya, media global sekelas BBC News Online pun sempat kelimpungan membaca fenomena mundur ini. Saking bingungnya melihat ada orang yang sukarela melepas jabatan tertinggi, mereka sempat melempar judul berita yang sangat seksis: "Jacinda Ardern resigns: Can women have it all?". Setelah diamuk netizen sedunia, judul itu buru-buru diganti menjadi “Departure reveals unique pressures on PM”.
Wonder Woman
Riset wacana kritis dari Chałupnik dan sejawatnya (2025) membongkar motif di balik layar pemberitaan tersebut. Media rupanya gemar membangun narasi "Wonder Woman" saat Ardern berhasil melahirkan dan menyusui bayinya sambil memimpin negara. Namun begitu ia memutuskan mundur karena kelelahan, media langsung membingkainya seolah-olah Ardern akhirnya "menyerah" dan kembali ke pelukan takdir alaminya sebagai ibu rumah tangga biasa. Sebuah peringatan naratif terselubung yang bias gender: wanita karier dianggap tidak akan pernah benar-benar bisa menyeimbangkan dunia kerja dan keluarga dalam jangka panjang.
Padahal, jika kita menengok panggung aslinya di media sosial, tanpa banyak pidato, Ardern sebenarnya sedang menantang ekspektasi publik yang nyaris mustahil dipenuhi. Lewat studi narasi komunikasi visual, Timperley, Fitzpatrick, dan Neely (2025) menemukan bahwa Ardern secara konsisten menggunakan akun Instagram dan Facebook miliknya untuk mendobrak mitos intensive mothering —sebuah doktrin neoliberal yang memaksa para ibu untuk tampil tanpa cela, serba tahu, produktif secara ekonomi, sekaligus harus selalu ada di samping anak 24 jam seminggu.
Alih-alih memamerkan foto estetik yang penuh kepalsuan, Ardern justru hobi mengunggah realitas parenting yang berantakan dan penuh "gagal estetik". Mulai dari kue ulang tahun Neve yang bentuknya amatir, wadah Tupperware yang tutupnya sering hilang entah ke mana, sesi siaran Facebook Live yang mendadak bocor karena suara tangisan anaknya yang gagal tidur tepat waktu, hingga foto ikonik noda putih krim ruam popok (nappy rash cream) yang tertinggal di blazer merah maroon miliknya saat ia harus bergegas memimpin rapat penting negara.
Melalui humor visual tersebut, Ardern dengan cerdas menolak label "Superwoman". Ia secara terbuka mendeklarasikan prinsip "it takes a village"—bahwa dia bisa bertahan memimpin negara hanya karena ada sang pasangan, Clarke Gayford, yang bersedia menjadi bapak rumah tangga penuh waktu, disokong oleh bantuan dari ibunya sendiri. Ardern tidak berusaha terlihat sempurna. Ia justru menunjukkan bahwa hidupnya pun sering berantakan, sehingga para ibu pekerja lain tidak merasa harus selalu berhasil dalam segala hal.
Seni Mundur
Lalu, mengapa urusan mundur ini tetap menjadi seni yang sangat sulit dieksekusi oleh para pemimpin egois? Masalahnya ada pada isi kepala kita sendiri. Sejak kecil, kita dicekoki oleh doktrin-doktrin motivator yang berteriak: "Pemenang tidak pernah menyerah!" Akibatnya, banyak manajer atau CEO yang terjangkit bias kognitif yang oleh Daniel Kahneman disebut sebagai The Sunk Cost Fallacy atau kekeliruan biaya tertanam. Penyakit ini membuat seseorang menolak mundur dari jabatan yang sudah tidak produktif atau proyek yang sudah sekarat hanya karena merasa: "Saya sudah telanjur mengorbankan waktu, uang, dan harga diri yang masif di sini."
Ini mirip seperti orang yang nekat menghabiskan sepiring makanan basi yang berbau busuk hanya karena emoh rugi setelah membelinya dengan harga mahal. Hasilnya? Tentu saja, kram perut yang menyiksa. Pakar strategi Seth Godin meluruskan salah kaprah ini dalam bukunya The Dip. Menurut Godin, pemenang sejati sebenarnya adalah mereka yang hobi mundur secara taktis dan sadar (strategic quitters). Orang pintar tahu kapan harus lekas angkat kaki dari "jalan buntu" (the cul-de-sac) agar energi mereka tidak habis sia-sia.
Bahasa sederhananya, mengetahui kapan harus berhenti berjalan di jalur yang keliru adalah bentuk kecerdasan tertinggi. Keputusan itu jauh lebih mulia daripada memamerkan kecepatan berlari di jalur yang salah.
Saya jadi teringat obrolan dengan seorang rekan senior di sebuah lembaga riset tempo hari. Beliau dengan sukarela melepaskan posisi ketua tim yang sudah dipegangnya selama sewindu untuk diserahkan kepada peneliti yang jauh lebih muda. Saat saya tanya apa alasannya, jawabannya sangat filosofis sembari terkekeh: "Gelas saya sudah penuh, kopinya sudah dingin. Kalau saya tidak tahu diri untuk mundur sekarang, saya cuma akan jadi pajangan meja yang bikin ruangan terasa sempit."
Itulah esensi sejati dari The Art of Graceful Retreat. Mundur secara elegan bukan berarti Anda kalah taruhan atau lari dari tanggung jawab dengan ekor menjepit di antara dua kaki. Barangkali di situlah ujian terberat seorang pemimpin. Bukan ketika ia diminta naik ke panggung, melainkan ketika ia harus mengakui bahwa sudah waktunya memberi ruang bagi orang lain untuk berdiri di sana.
Ketika Anda bersedia turun dari panggung pada saat yang tepat dengan senyuman lebar, Anda sebenarnya sedang memberikan oksigen bagi darah baru untuk mengalir, sekaligus mengamankan warisan (legacy) terindah Anda agar tidak cacat oleh kebebalan masa tua.
Mungkin itulah pelajaran paling sederhana dari Jacinda Ardern. Tidak semua pemimpin gagal karena jatuh. Sebagian justru dikenang karena tahu kapan harus turun dari panggung sebelum didorong turun oleh keadaan.
(Penulis adalah akademisi, praktisi komunikasi, mantan wartawan)
© 2026 nyaya.id-Adil sejak dalam Pikiran
Nyaya.id
Nyaya.id adalah portal berita online yang punya komitmen menyuarakan keadilan baik melalui berita (news) maupun opini atau gagasan. Informasi umum dan santai juga kami hadirkan sebagai bentuk pemenuhan hak publik.
Sekretariat: Ngabeyan RT 006/003, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah.
Email: abunadzib@nyaya.nyaya.id
WA: 085 725020202/ 085 865696279
Rekening:
BRI an. Abu Nadzib 009701063009507
BCA an. Abu Nadzib 7850359436
MANDIRI an. Dewi Aprianti 1380023311082
