Mengapa Banyak yang Mundur saat Karier sedang Menanjak?

Setelah pandemi COVID-19, Amerika Serikat mencatat lonjakan tingkat pengunduran diri pekerja hingga mencapai level tertinggi sejak Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) mulai dilakukan pada tahun 2000. Fenomena ini kemudian dikenal sebagai The Great Resignation.

KOLOM

Edhi Aruman

7/26/20264 min read

Nyaya.id -- Selama puluhan tahun kita diajarkan untuk terus naik. Anehnya, ketika semakin banyak orang akhirnya berhasil naik, mereka justru memilih turun.

Setelah pandemi COVID-19, Amerika Serikat mencatat lonjakan tingkat pengunduran diri pekerja hingga mencapai level tertinggi sejak Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) mulai dilakukan pada tahun 2000.

Fenomena ini kemudian dikenal sebagai The Great Resignation.

Pada saat yang hampir bersamaan, istilah quiet quitting menjadi populer untuk menggambarkan pekerja yang tetap menjalankan tugasnya sesuai tanggung jawab, tetapi tidak lagi merasa harus menjadikan pekerjaan sebagai pusat hidup atau terus bekerja melampaui kewajibannya.

Gallup (Harter, 2022) melaporkan bahwa sekitar separuh pekerja di Amerika Serikat tergolong not engaged, kondisi yang kemudian banyak dikaitkan dengan fenomena quiet quitting.

Fenomena tersebut memicu banyak diskusi di kalangan ekonom, psikolog, dan praktisi manajemen mengenai perubahan cara orang memaknai pekerjaan dan keberhasilan.

Kalau berita itu muncul dua puluh tahun lalu, mungkin banyak orang akan mengernyitkan dahi. "Orang kok menolak promosi?" Bukankah sejak kecil kita diajarkan bahwa hidup adalah perlombaan yang hadiahnya berupa gaji lebih besar, jabatan lebih tinggi, dan kartu nama yang semakin panjang?

Logikanya sederhana: kalau tangga karier tersedia, ya dipanjat.

Anehnya, ketika banyak orang akhirnya sampai di anak tangga yang selama ini diimpikan, mereka justru mulai bertanya, "Lalu setelah ini apa?" Ternyata, yang berubah bukan hanya pasar kerja. Yang berubah adalah cara orang memaknai keberhasilan.

Psikologi sebenarnya sudah lama menjelaskan gejala ini. Brickman dan Campbell (1971) memperkenalkan konsep hedonic treadmill, yaitu kecenderungan manusia untuk cepat beradaptasi terhadap keberhasilan maupun kemewahan.

Mobil baru yang dulu membuat jantung berdebar, beberapa bulan kemudian terasa biasa saja. Promosi jabatan yang semula dirayakan dengan makan-makan lambat laun menjadi rutinitas. Gaji yang dahulu terasa luar biasa akhirnya dianggap kurang.

Garis Finis Bergeser

Akibatnya, kita terus berlari mengejar pencapaian berikutnya, seolah-olah kebahagiaan selalu berada satu langkah di depan. Ironisnya, garis finis itu ikut bergeser setiap kali kita mendekatinya.

Dalam bukunya The 5 Types of Wealth, Sahil Bloom (2025) berargumen bahwa persoalannya bukan karena manusia kurang sukses, melainkan karena kita memakai papan skor yang salah (the broken scoreboard).

Selama ini, masyarakat hampir selalu mengukur kehidupan hanya dari satu jenis kekayaan, yaitu uang. Padahal, kehidupan yang utuh dibangun oleh lima jenis kekayaan: kekayaan waktu (time wealth), kekayaan sosial (social wealth), kekayaan mental (mental wealth), kekayaan fisik (physical wealth), dan kekayaan finansial (financial wealth) (Bloom, 2025).

Jika hanya rekening yang terus bertambah sementara waktu, sementara kesehatan dan ketenangan batin terus berkurang, sesungguhnya kita sedang memenangkan pertandingan yang keliru.

Gagasan Bloom mengingatkan saya pada sosok Chuck Feeney, sebagaimana diceritakan oleh Feeney dan Helie (2007) dalam buku The Billionaire Who Wasn't. Menurut mereka, ada seorang miliarder yang bercita-cita meninggal tanpa menjadi miliarder. Namanya Chuck Feeney. Ia pendiri Duty Free Shoppers.

Kekayaannya pernah diperkirakan mencapai sekitar delapan miliar dolar Amerika Serikat. Namun, ketika banyak miliarder berlomba masuk daftar orang terkaya dunia, Feeney justru memiliki cita-cita yang terdengar aneh: meninggal tanpa membawa kekayaan (die broke) (Feeney & Helie, 2007).

Tenang, beliau bukan korban investasi bodong. Ia memang sengaja menyumbangkan hampir seluruh hartanya untuk pendidikan, kesehatan, penelitian, dan berbagai kegiatan filantropi. Ketika identitasnya akhirnya diketahui publik, Feeney hidup sederhana, terbang dengan kelas ekonomi, memakai jam tangan murah, dan tinggal di apartemen yang jauh dari kesan seorang miliarder (Feeney & Helie, 2007).

Sekilas, keputusan Feeney tampak tidak masuk akal. Bukankah orang bekerja keras agar bisa mengumpulkan kekayaan sebanyak mungkin? Namun, justru di situlah letak paradoksnya. Feeney tidak sedang membuang hartanya. Ia sedang menukar satu bentuk kekayaan dengan bentuk kekayaan lain yang menurutnya lebih bernilai: dampak, makna, dan kepuasan hidup.

Bloom menyebut keberanian semacam ini sebagai kemampuan untuk mendefinisikan sendiri arti "cukup" (Bloom, 2025). Selama seseorang tidak pernah tahu kapan harus berhenti mengejar lebih banyak, sebesar apa pun hartanya tidak akan pernah terasa cukup. Sebaliknya, ketika seseorang memahami batas "cukup", ia mulai memperoleh kebebasan yang sesungguhnya.

Untuk menyusun gagasannya, Bloom (2025) menggabungkan berbagai temuan penelitian dengan wawancara terhadap ribuan orang pada berbagai tahap kehidupan. Polanya menarik. Ketika diminta menceritakan penyesalan terbesar, sangat sedikit orang yang berkata, "Seandainya saya bekerja lebih lama."

Berdasarkan sintesis wawancara dan penelitian yang dikutip Bloom (2025), penyesalan yang paling sering muncul justru penyesalan karena terlalu sedikit menghabiskan waktu bersama keluarga, kehilangan persahabatan, atau mengabaikan kesehatan demi pekerjaan.

Selalu Terlambat

Masalahnya, penyesalan hampir selalu datang terlambat. Ketika seseorang menyadari bahwa waktu lebih berharga daripada uang, sebagian waktu itu sudah tidak bisa dipanggil kembali.

Kalau dipikir-pikir, kehidupan modern memang lucu. Kita membeli mesin cuci agar punya lebih banyak waktu. Kita membeli penyedot debu robot agar pekerjaan rumah bisa selesai lebih cepat. Kita memesan makanan lewat aplikasi agar tidak perlu memasak.

Anehnya, waktu yang berhasil dihemat itu justru dipakai untuk menghadiri rapat tambahan, membalas surel hingga larut malam, atau mengejar target berikutnya.

Teknologi semakin canggih, tetapi kalimat yang paling sering terdengar tetap sama: "Maaf ya, saya lagi tidak punya waktu."

Mungkin masalahnya memang bukan karena sehari hanya terdiri atas dua puluh empat jam. Mungkin masalahnya adalah kita terlalu lama membiarkan orang lain menentukan papan skor kehidupan kita. Kita sibuk mengejar apa yang dianggap penting oleh lingkungan, tanpa sempat bertanya apakah itu juga penting bagi diri kita sendiri. Bloom (2025) menyebutnya sebagai default path, yaitu kehidupan yang dijalani sekadar karena "semua orang juga begitu". Padahal, hidup yang baik bukanlah hidup yang paling sibuk, melainkan hidup yang paling selaras dengan nilai yang kita yakini.

Barangkali, itulah sebabnya semakin banyak orang berani berkata "cukup" ketika kariernya justru sedang menanjak. Mereka tidak kehilangan semangat bekerja. Mereka hanya mulai menyadari bahwa ada harta yang tidak pernah bisa dibeli dengan bonus tahunan.

Harta itu adalah waktu untuk orang-orang yang dicintai, tubuh yang tetap sehat, pikiran yang tenang, dan kesempatan untuk menjalani hidup sesuai pilihan sendiri.

Sebab pada akhirnya, hidup jarang habis karena satu keputusan besar. Ia habis sedikit demi sedikit, setiap kali kita menukar waktu dengan sesuatu yang ternyata tidak pernah benar-benar kita butuhkan.

(Edhi Aruman, penulis dan wartawan senior)