Kata Pakar Soal Kobra Telan Pisau Dapur: Ular Binatang Oportunis

Pisau yang ditelan ular kobra di Karanganyar sebelumnya digunakan untuk memotong daging. Aroma yang masih menempel pada pisau diperkirakan membuat ular keliru mengenalinya sebagai sesuatu yang dapat dimangsa.

NEWS

Abu Nadzib

8/7/20261 min read

NYAYA.ID Ketua Exalos Indonesia, Janu Wahyu Widodo (dua dari kiri)

Ketua Exalos Indonesia, Janu Wahyu Widodo (Istimewa)
Ketua Exalos Indonesia, Janu Wahyu Widodo (Istimewa)

NYAYA.ID Seekor ular kobra berhasil diamankan oleh Kamto, snake rescuer Exalos Indonesia, di wilayah Jaten, Kabupaten Karanganyar. Saat ditemukan, ular tersebut dalam kondisi terluka dengan sebilah pisau terlihat menembus bagian perutnya.

Pisau tersebut diduga tertelan ular setelah sebelumnya digunakan untuk memotong daging. Aroma yang masih menempel pada pisau diperkirakan membuat ular keliru mengenalinya sebagai sesuatu yang dapat dimangsa.

Pakar ular, Janu Wahyu Widodo menjelaskan, secara anatomi ular memang memiliki kemampuan menelan benda yang ukurannya lebih besar dibandingkan diameter kepalanya.

Hal itu dimungkinkan karena bagian rahangnya sangat fleksibel dan dihubungkan oleh jaringan elastis. Kulit, otot, serta tulang rusuk ular juga dapat meregang ketika makanan melewati tubuhnya.

"Ular juga dikenal sebagai predator oportunis yang memanfaatkan mangsa yang tersedia di sekitarnya selama dapat ditangkap dan ditelan. Dalam kondisi tertentu, benda asing yang memiliki aroma menyerupai makanan dapat memicu respons berburu dan kemudian tertelan," ujarnya kepada Nyaya.id.

Ular mengenali lingkungan antara lain melalui partikel kimia yang dikumpulkan menggunakan lidah dan diteruskan menuju organ Jacobson.

Karena itu, aroma daging yang menempel pada benda tertentu dapat berpotensi memicu respons terhadap benda tersebut.

Meski demikian, menelan benda asing seperti pisau bukan merupakan perilaku normal pada ular. Kondisi stres, lapar, maupun kesalahan dalam mengenali objek diduga dapat menjadi faktor yang memicu kejadian semacam ini.

"Logam pada pisau juga tidak dapat dicerna oleh sistem pencernaan ular. Benda tajam yang tertelan berisiko melukai mulut, kerongkongan, lambung, maupun organ pencernaan lainnya. Pada kasus kobra di Jaten tersebut, pisau bahkan telah menyebabkan luka pada bagian perutnya," jelasnya tentara berpangkat Kopral ini.

Kasus ini menunjukkan bahwa kemampuan ular menelan benda berukuran besar tidak berarti semua benda aman untuk ditelan. Benda tajam seperti pisau justru dapat menimbulkan cedera serius dan mengancam keselamatan ular.