Ada Korban Meninggal, Warga Sukodono Sragen Diedukasi tentang Ular Berbisa

Warga diperkenalkan dengan sejumlah peralatan yang dapat digunakan untuk mengevakuasi ular, di antaranya snake hook dan grab stick. Penggunaan alat tersebut diperagakan secara langsung agar warga memahami cara menjaga jarak aman saat melakukan evakuasi.

NEWS

Abu Nadzib

8/20/20262 min read

Seorang peserta menjalani proses penanganan saat tergigit ular berbisa. (Istimewa)
Seorang peserta menjalani proses penanganan saat tergigit ular berbisa. (Istimewa)

Seorang peserta menjalani proses penanganan saat tergigit ular berbisa. (Istimewa)

SRAGEN, NYAYA.ID – Ancaman gigitan ular mendorong warga Dusun Nglembu, Desa Gebang, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sragen, meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemunculan reptil di lingkungan permukiman maupun lahan pertanian.

Langkah tersebut dilakukan setelah beberapa warga setempat dilaporkan menjadi korban gigitan ular. Bahkan, salah seorang korban meninggal dunia karena terlambat mendapatkan penanganan yang tepat.

Kondisi itu mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta Kelompok 63 memberikan edukasi mengenai mitigasi bencana dan penanganan ular kepada masyarakat. Kegiatan berlangsung di Balai Desa Gebang, Minggu (26/7/2026).

Edukasi tersebut diinisiasi Junius Kristiawan, mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unisri dengan NPM 21200048. Dalam pelaksanaannya, Junius menggandeng komunitas penyelamat reptil profesional, Exalos Indonesia.

Junius mengatakan edukasi tersebut diperlukan karena aktivitas masyarakat yang banyak bersinggungan dengan lahan pertanian membuat potensi pertemuan dengan ular cukup tinggi. Menurut dia, masyarakat perlu memahami karakter ular sekaligus mengetahui tindakan yang tepat ketika menemukan ular maupun menghadapi korban gigitan.

"Setelah adanya kejadian sebelumnya, kami melihat masyarakat membutuhkan pengetahuan praktis agar tidak panik ketika bertemu ular. Harapannya, warga bisa mengambil tindakan yang aman dan mengetahui langkah pertolongan pertama yang benar jika terjadi gigitan," ujar Junius, Minggu.

Dalam pelatihan tersebut, Exalos Indonesia memperkenalkan sejumlah jenis ular yang berpotensi ditemukan di kawasan agraris Sragen. Ular yang dibawa dalam kegiatan itu terdiri atas jenis tidak berbisa hingga ular berbisa tinggi seperti kobra dan weling.

Peralatan Ular

Warga kemudian diperkenalkan dengan sejumlah peralatan yang dapat digunakan untuk mengevakuasi ular, di antaranya snake hook dan grab stick. Penggunaan alat tersebut diperagakan secara langsung agar warga memahami cara menjaga jarak aman saat melakukan evakuasi.

Peserta yang terdiri atas perangkat desa dan warga juga mengikuti simulasi penanganan ular. Salah seorang mahasiswa KKN Unisri mempraktikkan proses memasukkan ular ke dalam kontainer plastik dengan memperhatikan aspek keselamatan.

Selain penanganan ular, materi juga mencakup pertolongan pertama terhadap korban gigitan. Instruktur memperagakan teknik imobilisasi dengan memasang bidai pada bagian tubuh korban yang terkena gigitan agar pergerakannya dapat diminimalkan.

Bekal Penting

Teknik tersebut bertujuan membantu memperlambat penyebaran bisa sebelum korban memperoleh penanganan medis lebih lanjut. Warga juga diingatkan untuk segera membawa korban ke fasilitas kesehatan dan tidak melakukan tindakan pertolongan yang justru berisiko memperparah kondisi.

Kepala Desa Gebang, Darwanto, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bekal penting bagi masyarakat, terutama karena sebagian besar warga bekerja di sektor pertanian dan memiliki kemungkinan bertemu ular saat beraktivitas.

"Atas nama warga, saya mengucapkan terima kasih kepada Mas Junius, tim KKN Unisri, dan Exalos Indonesia. Kegiatan ini sangat membantu masyarakat agar lebih memahami bagaimana menghadapi ular dan apa yang harus dilakukan ketika terjadi gigitan," kata Darwanto.

Dia berharap pengetahuan yang diperoleh dalam pelatihan tersebut tidak berhenti pada peserta kegiatan, tetapi dapat diteruskan kepada warga lain sehingga kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman ular semakin meningkat.